29
Aug

Kita Indonesia – Dua

*Catatan iseng bangaip_topdeh menjelang lebaran 2011*

Seorang teman dalam status sosial medianya bertanya, “Orang Indonesia, apapun agamanya, kalo udah hari raya kok yaa pada rame di mal?”

Saya senyum membacanya. Status yang menarik. Pertama bukan hanya sekedar mempertanyakan identitas kewarganegaraan, melainkan juga mempertanyakan perilaku sebuah bangsa dalam menyikapi peristiwa bersejarah.

Buat saya, hari raya itu bersejarah. Ia, bukan lagi berdiri hanya sebagai kata benda, melainkan juga sebagai hari dimana peringatan dicanangkan. Sebuah penentu momen. Contoh kalimat yang sederhana, “…tiga kali lebaran Bang Toyib nggak pulang… Abang tak pernah pulang sepucuk surat pun tak datang…” dalam lagu dangdut populer kategori merinding disko keluaran 2008 yang berjudul ‘Bang Toyib’.

Ketika lantas lagu tersebut jadi terkenal dan banyak orang Indonesia yang berhasil mengidentifikasikan dirinya di sana, yang terjadi adalah semacam ironi.

Tetangga saya, seorang bapak yang saleh dari Malang mengeluh soal perilaku anaknya di bulan Desember lalu, “Aduh si Maing gimana sih, Natal bukannya kumpul dengan keluarga malahan ke Praha. Mau jadi apa itu anak?”

Sampai sini mengerti? Saya pikir sih iya. Sebab saya yakin Anda toh pasti cukup cerdas memahami betapa bersejarahnya hari raya bagi orang Indonesia. Hehe.

Pada intinya, hari raya itu sebuah momen penting. Minimal buat orang Indonesia. Sebab ini satu-satunya hari dimana Jakarta yang super macet itu tiba-tiba lengang dan manusia yang bertransportasi di jalan seakan terlempar ke tahun 1960-an ketika kendaraan bermotor berseliweran masih bisa dihitung dengan jari.

Ketika di Kartu Tanda Penduduk WNI kita dipaksa untuk membuktikan pada negara apa agama yang dianut, maka jangan salahkan WNI ketika mereka mengidentifikasikan momen hari raya, yang jelas-jelas relijius, sebagai identitas kewarganegaraan mereka.

Yang islam, mau puasa atau tidak, yang penting lebaran. Mudik itu wajib. Sungkem orangtua, ketawa-ketiwi dengan rekan sedulur sekampung buat beberapa orang jauh lebih penting daripada menahan lapar dan haus sebulan penuh. Kalau bisa malah ramadhan jadi sarana kejar target untuk mudik. Berjubel-jubel bagai ikan sardin dalam bus atau kereta untuk pulang kampung itu buat beberapa orang jauh lebih suci daripada naik haji.

Yang nasrani, yang hindu, yang buddha, yang lainnya? Lah yaa sama.

Mau adu argumen? Ayo silahkan saja, coba buktikan kalau ada orang Indonesia (apapun kepercayaannya) yang enggan pulang kampung dan bertemu keluarga dan sahabat-sahabatnya untuk melepas rindu atau sekedar makan jajanan pasar?

Dalam esai-esainya yang legendaris ‘mangan ora mangan kumpul’, bapak Umar Kayam budayawan Indonesia menulis dengan amat bagusnya mengenai perilaku mudik orang Indonesia. Susah dibantah. Sebab memang begitu kultur sebuah bangsa bernama nusantara yang walaupun tinggal berkepulauan namun memakai pola agraris dalam sejarah kehidupan mereka. Sebuah kenyataan bahwa; setinggi-tingginya tupai melompat, ia akan mudik jua.

Orang Indonesia susah dilepaskan dengan hari raya.

Mau melepaskan orang Indonesia dengan hari raya? Itu sulit. Mengapa sulit? Jangankan orang Indonesia, orang Turki saja yang ‘dibebaskan’ oleh Mustafa Kemal Atatürk pada 29 Oktober 1923 untuk melepaskan atribut agama pada negara hingga saat ini masih hobi berpesta merayakan hari raya relijius mereka.

Benar-benar sulit. Rekan kerja saya yang berasal dari Eropa barat yang sudah jelas-jelas punya budaya bahwa negara sejak ratusan tahun lalu telah berhasil melepaskan diri dari agama, masih hobi pulang kampung dan kumpul bersama keluarga mereka ketika natal tiba.

Sekali lagi pada intinya; mudik itu peristiwa bersejarah. Bukan lagi hanya sekedar pelepas rindu, ia adalah ziarah ke hati yang dicintai.

Jadi adalah amat wajar jika WNI mudik. Bukan hanya wajar, lihatlah momen ini sebagai sebuah proses budaya.

Cilakanya (atau malah untungnya?), budaya jelas berubah. Jika tidak berubah ia beradaptasi. Sebab jika tidak beradaptasi, ia akan terkooptasi. Dan dalam kasus mudik… Ahhh mudik, sebagai budaya yang unik dan luhur kadang bisa jadi sarana umbar nafsu.

Seorang sahabat saya yang kini jadi mandor pabrik di Cikarang, luar Jakarta, sering takjub melihat betapa giatnya para karyawati pabrik mereka menempelkan rangkaian elektronik dan bekerja dua shift penuh sebelum lebaran tiba. Bayangkan, dua shift penuh! Ketika ditanya, salah satunya menjawab, “Buat beli Blekberi baru, Pak” yang lantas ia akan pamerkan di kampung halamannya.

Yang lainnya, bilang mau beli kulkas buat orangtuanya, biar acara silaturahmi setelah shalat ied di kampung bisa dimeriahkan dengan coca-cola dingin. Jawaban mereka macam-macam, intinya satu; ada budaya beli.

Apa ada yang salah dengan budaya beli? Yaa tidak, kalau Anda percaya bahwa kapitalisme saat ini memang jadi raja.

Apa ada yang salah dengan budaya pamer yang katanya tidak sesuai dengan norma keindonesiaan itu? Yaaa… Entahlah. Sebab norma Indonesia sendiri adalah sebuah kalimat rancu yang sangat bisa diperdebatkan.

Namun yang lucu dari budaya beli dan pamer ini adalah mal-mal jadi bersolek. Mal anu, menjelang lebaran menempelkan ketupat raksasa atau mistletoe di depan pintu masuknya. Lagu-lagu relijius tiba-tiba berkumandang di sela-sela gerai seakan mampu membius warga untuk membeli. Wow, kalimat puja-puji ilahi kira-kira dianggap mampu mendongkrak selera beli.

Tapi apa benar warga RI akhirnya jadi doyan belanja ketika hari raya tiba?

Kalau tidak, mungkin teman saya yang baik itu tidak mengeluh di status facebooknya.

Ahh tapi, sudahlah. Jangan hiraukan ceracau saya,. Anggap saja ini celoteh orang iseng yang bergaya jadi musafir dan tahun ini tidak bisa mudik. Hehehe…

Akhirul kalam, selamat merayakan hari raya. Selamat mudik. Selamat menikmati hari-hari bersama keluarga atau orang yang anda cintai.

Bangga dan berbahagialah jika Anda masih bisa mudik tahun ini. Nikmatilah identitas Anda selagi masih bisa.

Kenapa?

Karena kita orang Indonesia.

buy antivirus software online

*Selamat merayakan hari raya… Selamat mudik. Salam dari saya disini untuk keluarga dan teman pembaca semua*

zp8497586rq

One Response to “Kita Indonesia – Dua”

  1. Mudik itu sudah menjadi tradisi di Indonesia, bukan hanya Muslim tetapi semua moment libur ternyata sama, ktia bisa lihat di hari Natal atau tahun baru yang liburnya juga panjang, masyarakat Indonesia mudik juga.

    Hal ini terjadi karena memang tidak mudah untuk dapat bepergian di Indonesia, infrastruktur kurang, biaya transportasi mahal dan susahnya dapat cuti di Indonesia jika memang tidak hari raya. Bandingkan dengan teman saya yang bekerja di Freeport dapat cuti beberapa kali, dan itu wajib di ambil. Sehingga bisa pulang bertemu dengan keluarga lebih sering.

    Sialnya kebijakan seperti ini tidak akan dapat diperusahaan pada umumnya. Bisa dibilang cuti itu ‘aneh’ di Indonesia. Ujung-ujungnya apa yang terjadi libur hari-hari besar adalah satu-satunya kesempatan bertemu istri, keluarga, anak, saudara dan sebagainya.

    Indonesia ini memang unik, wilayah kepulauan yang tidak mudah dijangkau dengan mudah, butuh waktu dan pengorbanan untuk dapat mencapainya. Belum lagi moda trasportasi yang tersedia di Indonesia masih terbatas.

    Terlepas dari ikatan kekeluargaan bangsa Indonesia memang kuat, tetapi itulah peneyebab lainnya. Semua itu pada akhirnya menciptakan budaya mudik pada masyarakat Indonesia.